8.7.09

Harga Dinaikkan karena Pembayaran Dicicil, Apakah Termasuk Riba?

Assalamu'alaikum wr. wb.

Do'a saya semoga ustazd selalu sehat & dalam lindungan-Nya. Ada satu pertanyaan saya yang berkaitan dengan jual beli sistem kredit yang akhir-akhir ini galak dilaksanakan orang. Bagaimana hukumnya uang hasil jual beli sistem kredit, yaitu jika barang dibayar tunai harganya sekian, tapi jika dibayar dengan sistem cicilan harganya dinaikkan sedikit. Apakah kelebihan harga jika dibayar dengan mencicil tersebut termasuk riba atau bagaimana?

Terimakasih atas jawabannya.

Wassalamu'alaikum wr. wb. 
Hamba Allah - Jakarta 


Jawaban:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshaltu Wassalamu 'ala Rasulillah, Wa ba'du

Memang ada sementara kalangan yang berpendapat bahwa jual beli sistem kredit seperti ini disamakan dengan riba. Latar belakangnya adalah definisi riba yang oleh mereka dibuat seluas mungkin sehingga apapun bisa menjadi riba. Bahkan termasuk menggunakan mata uang kertas pun nyaris dikatakan sebagai riba.

Namun bila kita mengacu kepada pendapat jumhur (mayoritas ulama), maka dalam akad kredit cicilan seperti ini tidak terdapat unsur riba, selama nilai harga yang disepakatinya fix atau pasti. Kredit barulah menjadi haram manakala harga yang ditetapkan tidak fix, seperti dengan menggunakan sistem bunga. Namun sebagai syarat harus dipenuhi ketentuan berikut :

1. Harga harus disepakati di awal transaksi meskipun pelunasannya dilakukan kemudian. Misalnya: harga rumah 100 juta bila dibayar tunai dan 150 juta bila dibayar dalam tempo 5 tahun.

2. Tidak boleh diterapkan sistem perhitungan bunga apabila pelunasannya mengalami keterlambatan sebagaimana yang sering berlaku.

3. Pembayaran cicilan disepakati kedua belah pihak dan tempo pembayaran dibatasi sehingga terhindar dari praktek bai' gharar (penipuan) Untuk lebih jelasnya agar bisa dibedakan antara sistem kredit yang dibolehkan dan yang tidak, kami contohkan dua kasus sebagai berikut:

Anda membeli mobil yang harga aslinya 120 juta. Namun karena dibayarkan secara kredit selama 3 tahun, maka harganya menjadi 180 juta. Jadi setiap bulan Anda membayar Rp 5.000.000 dengan DP Rp 0,- selama tiga tahun/36 bulan. Akad ini syah secara syariah karena harganya pasti yaitu Rp 180 juta. Tidak ada unsur bunga yang membuat ketidakjelasan harga beli.

Yang diharamkan dalam sistem kredit adalah manakala harganya tidak pasti, namun berdasarkan bunga tiap bulan. Sehingga kedua belah pihak sama-sama tidak tahu berapakah sebenarnya harga beli mobil itu sebenarnya. Adanya spekuliasi ini mengindikasikan adanya jahalah atas transaksi itu. Dan pada titik ini, transaksi itu menjadi haram hukumnya.

Misalnya Anda menawarkan sepeda motor kepada teman Anda dengan harga Rp 12 juta. Teman Anda itu membayar dengan cicilan dengan ketentuan bahwa setiap bulan dia terkena bunga 2% dari Rp 12 juta atau dari sisa uang yang belum dibayarkan. Transaksi seperti ini adalah riba, karena kedua belah pihak tidak menyepakati harga dengan pasti, tetapi harganya tergantung dengan besar bunga dan masa cicilan. Yang seperti ini jelas haram.

Jumhur (mayoritas) ulama membolehkan jual beli kretit, karena pada asalnya boleh dan nash yang mengharamkannya tidak ada. Jual beli kredit tidak bisa dipersamakan dengan riba dari segi manapun. Oleh karena itu seorang pedagang boleh menaikkan harga menurut yang pantas, selama tidak sampai kepada batas pemerkosaan dan kezaliman. Kalau sampai terjadi demikian, maka jelas hukumnya haram.

Imam Asy-Syaukani berkata, "Ulama dari kalangan As-Syafi'iyah, Al-Hanafiyah, Zaid bin Ali, al-Muayyid billah dan Jumhur berpendapat boleh berdasar umumnya dalil yang menetapkan boleh. Dan inilah yang kiranya lebih tepat."

Al-Qaradawi dalam buku HALAL HARAM mengatakan bahwa menjual kredit dengan menaikkan harga diperkenankan. Rasulullah s.a.w. sendiri pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan tempo untuk nafkah keluarganya.

Wallahu a'lam bishshawab,
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb. 

Ahmad Sarwat, Lc. 



 
 
eramuslim [13/08/2004]  
Share:

0 comments :

Post a Comment

Mari komentar dan berdiskusi...