15.3.09

Sakit Hati juga bisa bikin koma..

Ternyata tidak selamanya ruangan ICU dipenuhi oleh kasus-kasus mencekam dan ngejulimet, terkadang kasus aneh nan lucu pun dapat terjadi di sini. Suatu waktu masuklah pasien baru ke ruang ICU tempat saya bertugas, ia seorang wanita usia 27 tahun dengan riwayat kejang tiba-tiba beberapa jam yang lalu dan sekarang koma. Menurut keterangan si suami, istrinya tersebut awalnya mual-mual dan muntah setelah makan 3 buah mangga muda. Menurut penuturannya, selain itu sudah 2 bulan belakangan ini si istri sering demam tidak jelas, lemas dan jarang makan. Yang perlu pembaca ketahui, si suami ini perawakannya sangar karena badannya dipenuhi tato serta di wajah dan kepalanya tampak beberapa bekas jahitan luka. Sekilas saya menduga ia seorang preman.

Awalnya kami fokus untuk melakukan koreksi terhadap gangguan elektrolit berat yang diderita pasien karena tentu saja gangguan elektrolit yang berat (khususnya natrium) dapat menimbulkan gangguan kesadaran dan kejang. Namun setelah hasil laboratorium elektrolit dan analisis gas darah menunjukkan sudah terkoreksi, kesadaran pasien belum kunjung membaik dan sekarang malah demamnya bertambah tinggi. Saya bersama dokter intensivis terkait akhirnya harus memutar otak kembali mengenai penyakit pasien. Karena terbayang penampilan si suami mirip preman serta riwayat demam yang berbulan-bulan pada pasien, maka tercetus dalam pikiran kami untuk mempertimbangkan kemungkinan HIV-AIDS pada kasus ini disamping beberapa jenis penyakit lainnya seperti meningitis misalnya.
Di suatu hari, saya memberanikan diri untuk meng-anamnesa si suami mengenai adakah riwayat kontak dengan narkoba suntik atau main dengan WTS untuk dapat memikirkan kemungkinan penularan virus HIV. Tentu saja saya tidak boleh asal bicara karena pria di hadapan saya ini adalah seorang preman, salah-salah bicara saya bisa menjadi pasien baru di ICU! Dan saat inilah saya teringat materi tentang wawancara psikiatrik yang pernah saya dapatkan semasa kuliah dulu, maka sayapun mempraktekkannya ke si preman dengan memulai tahap bina rapport terlebih dahulu. Kebetulan cara tersebut sukses saya lakoni sehingga banyak keterangan yang saya dapatkan kemudian, misalnya ia adalah seorang preman tersohor di sebuah daerah, hobinya mabuk-mabukan, main WTS dan memang ada riwayat memakai narkoba namun bukan jenis suntik. Ia juga mengatakan bahwa beberapa hari sebelum istrinya kejang mereka sedang cekcok dan ia sempat mengusir istrinya dari rumah. Namun saat saya bertanya apakah ia sering memukul istrinya (terutama pada kepala), ia menyangkalnya.
Nah, keanehan dimulai saat keesokan paginya. Ketika saya baru datang di ICU, para perawat mengabarkan bahwa si suami pagi-pagi sekali sudah mencari saya karena ada sesuatu hal yang sangat penting yang ingin dia bicarakan. Kemudian saya mempersilakan ia untuk masuk menemui saya. Ia masuk dengan tergopoh-gopoh menghampiri saya dan langsung membuka percakapan dengan seribu permintaan maaf. Ia mengatakan bahwa ia telah berbohong kepada saya kemarin, dan ia mengakui bahwa sebenarnya ia memang sering memukul dan menjambak kepala istrinya.
Kelakuannya yang semena-mena itu terakhir kali dilakukan tepat satu hari sebelum istrinya masuk rumah sakit. Ia bilang saat bersembahyang semalam, ia dimarahi oleh Dewa karena tidak berterus terang kepada dokter. Dewa bilang hanya dengan berterus teranglah maka para tim medis bisa menyelamatkan si istri. Menurutnya, Dewa juga berkata bahwa istrinya sakit keras karena memendam sakit hati menahun terhadap kelakuan dirinya selama ini, sehingga sekarang koma karena darahnya tersedot oleh rohnya yang enggan kembali ke tubuhnya. Saya hanya bisa melongo saja mendengar pernyataan semacam di atas dan hanya mampu berkata terima kasih atas kejujurannya.
Setelah mendengar anamnesa versi jujur di atas, selanjutnya tentunya beralasan jika saya meminta CT-Scan kepala pasien dengan kecurigaan adanya perdarahan karena kekerasan dalam rumah tangga tersebut. Namun ketika meminta persetujuan si suami beberapa waktu kemudian, ia malah komplain karena istrinya sering diambil darah untuk diperiksa laboratorium dan juga sekarang malah mau di scanning. Ia berkata bahwa kasihan istrinya, sudah tidak ada darah lagi karena disedot oleh roh malah terus diambil darahnya tiap hari. Lagipula menurutnya tidak akan ditemukan apa-apa di pemeriksaan darah maupun kepala istrinya karena jelas-jelas istrinya jadi sakit begini disebabkan sakit hati semata terhadap dirinya sehingga ia terus membisikkan kata maaf di telinga si istrinya sembari minta saya turut membujuk istrinya untuk memaafkan dirinya. Waduh, semakin bingunglah kami di ICU terhadap tingkah laku keluarga pasien satu ini, apalagi di dunia medis tidak jelas apa itu istilah ‘sakit hati’ dan bagaimana pula caranya pasien koma bisa sadar setelah dibisikkan kata maaf semata.
Dengan bujuk rayu yang sabar, di kemudian hari akhirnya si suami setuju untuk dilakukan CT-Scan. Hasil pemeriksaan CT-Scan kepala seperti yang diduga ditemukan kelainan bermakna, walaupun tidak terbukti adanya perdarahan akut, tetapi ditemukan edema otak menyeluruh disertai daerah hipodens (iskemik) luas di otak sisi kanan. Selanjutnya pasien tersebut kami konsulkan kepada dokter spesialis saraf.
Dari kasus ini, menurut saya terkadang kita sebagai dokter acapkali malas melakukan anamnesa yang lengkap terhadap pasien, apalagi saat ini berbagai pemeriksaan penunjang sudah semakin praktis dan canggih sehingga tidak heran kita semakin bergantung pada ‘daftar angka-angka’ tersebut. Padahal ada banyak point penting terkait kebiasaan hidup, budaya dan kronologis kejadian penyakit yang didapatkan hanya lewat anamnesa lengkap. Anamnesa yang lengkap hanya bisa diperoleh jika kita sudah membina rapport dengan pasien dan keluarganya, sesuatu hal yang lupa saya terapkan pada pertama-tama dalam kasus ini.
Bagi keluarga pasien, kasus ini seakan menjelaskan betapa penting keterangan dan kronologis yang disampaikan dari pihak keluarga untuk membantu dokter menegakkan diagnosa dan terapi secara tepat. Sehingga hendaknya keluarga tidak malu atau menyimpan rahasia yang bisa jadi penting sebagai keterangan sehubungan penyakit pasien. Rahasia pasien adalah kewajiban para dokter untuk simpan dengan rapat, sehingga tidak perlu khawatir bahwa dokter akan menjadi hakim terhadap rahasia yang telah diceritakan tersebut, misalnya dengan mengadukan riwayat pasien sebagai pengguna dan penjual narkoba ke pihak yang berwajib.
Jadi sakit hati bisa buat orang jadi koma? Ya bisa jawabannya, yaitu jika emosi dan tangan pun ikut bermain.


sumber: wikimu

Share:

0 comments :

Post a Comment

Mari komentar dan berdiskusi...