28.9.16

Ruang Servernya Facebook

Assalamu'alaykum..
Sehat bro?

Beberapa hari ini sering banget angin kencang, hati-hati lho bagi yang tubuhnya ringan, ntar bisa-bisa terbang gak sengaja. :D
Malam ini iseng liat2 facebook, nemu album yang isinya foto ruang servernya facebook, jadinya saya share biar gampang liat bagi yang nyasar kesini.

Oke, here we go.. 

Udah, itu aja sih postingan kali ini. Semoga bahagia..
Share:

14.9.16

Salah Kaprah Tetapi Ngotot Menganggap Benar Pendapat Para Manajemen Pendidikan Tinggi (Kaprodi, Dekan, Rektor) di Indonesia


Saya sering tersenyum dalam hati ketika ada orang di perguruan tinggi terutama para pimpinannya MASIH mengungkapkan pernyataan berikut: sayang Prof. VG TIDAK memiliki linearitas ilmu, sehingga TIDAK BISA diakui ketika mengajar di Program Magister Manajemen Universitas. Ternyata pendapat seperti ini juga diperkuat oleh Tim Penilai Akreditasi Program Studi di Fakultas/Universitas. Tampaknya memang pemahaman membaca dan menginterpretasikan suatu peraturan di Indonesia MASIH PARAH!

Sebagai kasus pada diri saya pribadi:
S1: Sarjana Peternakan
S2: Magister Statistika Terapan
S3: Doktor Teknik Sistem dan Manajemen (Spesialisasi Teknik Sistem dan Manajemen Industri)
Guru Besar: Bidang Ilmu Ekonomi Manajerial

Jika melihat latar belakang pendidikan saya di atas: apakah masih ada orang meragukan jika saya mengajar mata kuliah  Ekonomi Manajerial, Manajemen, Metode Kuantitatif? Saya telah mempublikasikan lebih dari 40 (empat puluh) buku teks dalam bidang ilmu Ekonomi Manajerial, Manajemen, dan Metode Kuantitatif, serta ratusan paper ilmiah dalam bidang ilmu manajemen. Padahal dalam bidang peternakan BELUM ada satupun publikasi saya, karena saya memang telah “meninggalkan” bidang ilmu Peternakan sejak 1983, ketika menempuh pendidikan formal Pascasarjana (S2) dalam bidang Statistika Terapan.

Jika ada yang MASIH ngotot dengan pendapat yang SALAH tentang Linearitas Ilmu sejak S1, maka Silakan baca surat edaran dari Dirjen Dikti pada tanggal 17 Oktober 2014 terlampir, agar TIDAK lagi mempertahankan pendapat yang SALAH KAPRAH itu.

Salam SUCCESS.

Share:

7.9.16

Seputar Qurban:Dari Persoalan Menjual Kulit Hingga Berkurban Untuk Maiyit

Assalamualaykum,
Tulisan ini adalah tentang qurban, yang ditulis oleh Ust. Muhammad Syamlan, Lc.
Beliau adalah pimpinan Yayasan Ma'had Rabbani Bengkulu.
Silahkan dibaca, 

Menyembelih hewan kurban berupa kambing, sapi, atau unta pada waktu yang ditentukan, yaitu pada idul adha dan pada hari-hari tasyriq, adalah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Menurut Jumhurul Ulama’ bahwa hukumnya adalah sunnah mu’akkadah bagi yang mampu. Allah berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.” (Al-Kautsar: 2)
Dari Jundub bin Sufyan r.a. berkata: “Aku mengalami hari raya Adlha bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam. Setelah beliau selesai sholat bersama orang-orang, beliau melihat seekor kambing telah disembelih. Beliau bersabda: "Barangsiapa menyembelih sebelum shalat, hendaknya ia menyembelih seekor kambing lagi sebagai gantinya, dan barangsiapa belum menyembelih, hendaknya ia menyembelih dengan nama Allah." (Hr. Bukhari dan Muslim/Bulughul Maram=BM).

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa mempunyai kemudahan untuk berkurban namun ia tidak berkurban, maka janganlah sekali-kali ia mendekati tempat shalat kami." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Dinyatakan shahih oleh Hakim, tatapi imam-imam Hadits yang lain menganggap mauquf./BM)

Berkurban harus dengan kambing (termasuk domba, biri-biri, kibas), sapi (termasuk kerbau) dan unta. Kurban tidak sah selain dari tiga jenis binatang ternak ini. Jenis kambing harus sudah berumur satu ke atas dan biri-biri boleh yang baru berumur 6 bulan. Sedang sapi harus sudah berumur dua tahun ke atas. Sementara unta harus berumur lima tahun ke atas.

Hewan yang dikurbankan harus benar-benar sehat, bagus, gemuk dan tidak cacat. Nabi bersabda: “Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban, yaitu: yang tampak jelas butanya, tampak jelas sakitnya, tampak jelas pincangnya, dan hewan tua yang tidak bersum-sum lagi." (Hr. Ahmad dan Imam Empat. Hadits shahih menurut Tirmidzi dna Ibnu Hibban/BM)

Satu ekor kambing untuk berkurban satu orang. Sedang sapi (termasuk kerbau) dan unta bisa untuk berkurban tujuh orang. Jabir bin Abdullah berkata: “Kami pernah menyembelih bersama Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pada tahun Hudaibiyyah seekor unta untuk tujuh orang dan seekor sapi untuk tujuh orang.” (Hr. Muslim/BM)

Tetapi perlu diketahui bahwa satu kurban baik berupa kambing, sapi atau unta cukup untuk kurban satu keluarga (dalam satu rumah tangga) berapapun jumlah anggota keluarga itu. Dalilnya adalah hadits dari Abu Aiyub Al-Anshari: “Orang di zaman Nabi SAW. biasa berkurban dengan seekor kambing untuk dirinya dan anggota kelurganya, lalu mereka memakannya dan memberikannnya kepada orang-orang lain hingga berlomba-lomba orang dalam berkurban seperti yang kamu lihat,” (Hr. Ibnu Majah dan Tirmidzi dan ia menyatakan shahih/Nailul Authaor=NA).

Orang yang berkurban boleh menyembelih sendiri hewan kurbannya lalu membagi-bagikannya kepada sanak kerabat, jiran tetangga dan kaum fakir miskin. Tetapi boleh juga menyerahkan kepada orang lain atau panitia yang bersedia untuk menyembelih dan mengatur serta mendistribusikannya. Dua-duanya pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. 

Dari Ali Ibnu Abu Thalib r.a. berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepadaku untuk mengurusi kurban-kurbannya, dan menyedekahkan daging, kulit dan alas dipunggungnya kepada orang-orang miskin, dan aku tidak diperbolehkan memberi suatu apapun (sebagai upah) dari kurban kepada penyembelihnya” Dan Ali berkata: “Kami memberinya (upah kepada tukang sembelihnya) dari kami sendiri”. (Muttafaq Alaihi/ NA)

Perlu diketahui – berdasarkan Hadits Ali di atas - bahwa panitia, baik jagalnya atau yang lainnya, tak boleh diupah dengan daging, kepala, kaki, kulit, tulang atau yang lainnya dari hewan yang dijadikan qurban. Namun jagal dan para anggota panitia ini boleh mendapatkan bagian qurban sebagaimana yang lainnya. Dan, apabila mereka harus diupah maka bisa diambilkan dari anggaran lain. Ali berkata: “Kami memberinya (upah kepada tukang sembelihnya) dari kami sendiri”. (Lihat Hadits di atas)

Orang yang berkurban boleh mengambil sebagian dari daging binatang yang dikurbankan untuk dimakan atau disimpan, dan selebihnya dihadiahkan kepada orang lain serta disedekahkan kepada kaum fakir dan miskin. Allah berfirman: “Maka makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” ( Al-Hajj: 28)
 
Orang yang berkurban dilarang menjual apa pun dari binatang yang sudah dikurbankan termasuk kulitnya. Ia dibolehkan memanfaatkan kulitnya untuk keperluan tertentu, seperti dibuat wadah air, sandal, alas shalat dan lain-lain. Sebagaimana disebutkan bahwa ada Sahabat menggunakannya untuk wadah air, sandal, alas shalat dll.. Namun, sekali lagi, ia tak boleh menjualnya. Ia harus memberikan atau menyedekahkannya kepada orang lain bila tak hendak memanfaatkannya. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku tadinya memerintahkan kalian agar tidak makan daging-daging kurban lebih dari tiga hari untuk memperluas (daging-daging kurban) di antara kalian. Tapi Sesungguhnya aku sekarang membolehkannya bagi kalian. Maka makanlah sesuai dengan kehendakmu, dan jangan kamu jual daging-dagingnya. Makanlah dan sedekahkanlah. Manfaatkanlah kulit-kulitnya dan jangan kamu jual. Dan jika kamu telah memberikan daging-dagingnya kepada orang lain, maka kamu bisa makan kapan saja.” (Hr. Ahmad/Nailul Authar)
 
Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa yang menjual kulit hewan kurbannya, maka tidak ada kurban baginya.” (Hr. Hakim dan Baihaqi, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani).

Perlu dicermati bahwa larangan menjual kulit ini adalah bagi orang yang berkurban. Bukan pihak lain yang menerimanya. Adapun pihak lain – baik lembaga atau perorangan - yang mendapatkan pemberian atau sedekah berupa kulit qurban boleh mengolahnya atau memanfaatkannya, dan boleh juga menjualnya lalu hasil penjualannya digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri, orang-orang miskin atau kepentingan umum.

Lembaga Fatwa Saudi Arabiah yang diketuai Syaikh Abd Aziz bin Baz rahimahullah menyatakan dalam fatwanya: “Sesungguhnya apabila kulit hewan kurban diberikan kepada orang miskin atau pihak yang mewakilinya, maka tidak ada larangan untuk menjualnya dan orang miskin bisa memanfaatkan dari hasil penjualannya. Sesungguhnya yang terlarang untuk menjualnya adalah hanya pihak yang berkurban saja. Oleh karena itu, maka tidaklah terlarang lembaga-lembaga sosial menjual kulit-kulit hewan kurban yang mereka terima lalu mendistribusikan hasilnya untuk kepentingan orang-orang yang miskin.”

Posisi panitia kurban sesungguhnya adalah mewakili orang yang berkurban. Maka mereka harus mendistribusikan hewan kurban ini hingga habis. Dagingnya, tulangnya, kulitnya dan lain-lainnya yang bermanfaat.

Panitia kurban sebagai wakil dari pengkurban harus betul-betul amanah dalam menyembelih hewan qurban dan menyalurkannya. Tak boleh mengambil bagian dari hewan kurban sebagai upah, atau menjual kulitnya atau bagian lainnya untuk membiayai keperluan penyembelihan dan pendistribusian (operasional). Kalau memang untuk penyembelihan dan pendistribusian ini membutuhkan biaya operasional maka harus dimintakan biaya lain dari pengkurban atau dari anggaran lain.

Panitia kurban boleh mengambil jatah dari daging qurban sebagaimana pihak lain. Tapi tidak ada hak istimewa atau hak lebih karena kepanitiaannya. Karena bila ada hak lebih, berarti itu upah. Sedang mengambil upah dari hewan kurban tidak boleh.

Apabila panitia kurban memandang jika kulit dipotong-potong dan dibagi bersama dengan daging yang diberikan kepada para penerima maka kulit-kulit ini bakal dibuang saja, Panitia boleh memberikan kulit-kulit hewan qurban secara utuh kepada orang miskin yang mau sebagai sedekah baik langsung atau melalui perwakilan dari lembaga-lembaga sosial yang ada seperti panti asuhan, LAZ dll. Kulit ini boleh mereka olah atau mereka jual untuk kemaslahatan orang-orang miskin.

Sebagaimana Panitia Kurban boleh memberikan kulit-kulit hewan kurban kepada lembaga sosial, boleh juga memberikan kepada lembaga lain yang mengurus kepentingan ummat seperti pengurus masjid, sekolah-sekolah Islam, pesantren dan lain-lain. Lalu mereka menjual kulit-kulit tersebut dan membelikannya alat-alat yang berguna, seperti ember kamar mandi, pengeras suara, mic, alat-alat kebersihan, alas shalat dll.. Dengan demikian maka kulit-kulit itu bisa bermanfaat. Tentu tidak tepat, sesuatu yang bisa dimanfaatkan dan dijual lalu dibuang percuma.

Bagaimana dengan kurban untuk orang yang sudah meninggal? Tak ada perbedaan pandangan akan kebolehannya, bila seseorang berkurban lalu berdoa agar pahalanya juga mengalir kepada bapak, ibu dan saudara-saudaranya yang sudah meninggal dunia. Namun bila seseorang secara khusus mengkurbankan orang yang sudah mati, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama. Madzhab Syafi’i tidak membolehkan. Imam Nawawi berkata: “Tidak sah berkurban untuk orang lain tanpa seizinnya dan orang yang sudah meninggal jika tidak berwasiat untuk dikurbankannya.” Dalilnya adalah firman Allah: “Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” An-Najm: 39. (lihat: Al-Minhaj dan Mughnil Muhtaj). Madzhab Maliki hampir sama, yaitu makruh berkurban untuk orang yang sudah meninggal. Sedang yang membolehkan adalah Madzhab Hanafi dan Hambali. Dalilnya adalah seperti sedekah-sedekah lain yang boleh dilakukan untuk orang yang sudah meninggal. Ditambah lagi dengan Hadits yang menyebutkan bahwa Nabi berkurban untuk ummatnya yang sudah meninggal dan juga yang belum lahir saat itu. Saat menyembelih Nabi Saw. mengucapkan: “Dengan nama Allah. Ya Allah, terimalah (kurban ini) dari Muhammad, keluarganya, dan umatnya.” (Hr. Muslim, BM)  Dan inilah yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Wallahu a’lam.
Share:

6.9.16

Cara Mudah Membuat Jurnal

Harap maklum ya, ini hanya ilustrasi. Mudah-mudahan tidak terlalu mengerikan
Assalamu'alaykum...
Hai, gimana kabarnya? Masih bokek? Yang sabar aja ya..

Well, ini tulisan cuma copy + paste dari grup dosen di facebook, kenapa dicopas? Buat menuh-menuhin postingan di blog ini aja sih, gak lain dan gak bukan..
Ini ya, langsung saya paste di bawah sini:
  1. Judul
    Buatlah sebuah judul jurnal. Setiap karya ilmiah haruslah memiliki sebuah judul, sama halnya dengan jurnal yang juga harus memiliki sebuah judul yang jelas. Dengan mengetahui judul dari sebuah jurnal maka pembaca akan langsung mengetahui inti dari jurnal tersebut tanpa harus membaca keseluruhan dari jurnal. Contoh sebuah jurnal yang berjudul "SISTEM ALARM ANTI MALING DAN ANTI KEBAKARAN UNTUK PENGAMAN GEDUNG", dari judul saja kita sudah bisa mengetahua tentang isi yang akan di bahas dari jurnal tersebut.
  2. Abstrak
    Langkah ke dua dalam pembuatan jurnal adalah membuat abstrak. Abstrak di sini berbeda dengan ringkasan, dalam bagian abstrak sebuah jurnal berfungsi untuk menjelaskan secara singkat tentang kesuluruhan isi jurnal. Abstrak haruslah bersifat jelas, , ringkas, singkat, berdiri sendiri, dan obyektif. Dalam arti berdiri sendiri adalah bagian abstrak tidak diperbolehkan berisi tentang kutipan atau catatan kaki. Penulisan sebuah abstrak terdiri dari sekitar 250 kata yang berisi tentang tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan sebuah jurnal.
  3. Pendahuluan
    Membuat pendahuluan, pendahuluan adalah pernyataan dari gambaran umum sebuah kasus yang sedang diselidiki yang diinformasikan kepada pembaca untuk memahami tujuan dalam melakukan penelitian. Informasi yang diberikan kepada pembaca mencakup latar belakang masalah dan kemudian bagaimana percobaan yang dilakukan akan bermanfaat.
  4. Bahan dan Metode
    Dalam bagian ini kita akan menjelaskan tentang proses percobaan yang dilakukan. Informasi yang dijelaskan di sini mencakup desain percobaan, peralatan yang dipergunakan, metode dalam pengumpulan data, gambaran lokasi, dan jenis pengendalian. Perlu diperhatikan dalam bagian ini kita harus menjelaskan secara rinci dan jelas.
  5. Hasil
    Dalam bagian ini peneliti menyajikan data yang ringkas dengan tinjauan dalam bentuk teks naratif, tabel, maupun gambar. Perlu dipahami dalam bagian ini informasi yang diberikan hanya hasil yang disajikan, tidak ada interprestasi data maupun kesimpulan dari data yang ada. Sebuah data yang diinformasikan harus disajikan dalam bentuk tabel/gambar menggunakan teks naratif dan ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami.
  6. Pembahasan
    Dalam bagian pembahasan, peneliti menafsirkan data-data yang ada dengan pola yang diamati. Dari setiap hubungan antara variable percobaan yang penting dan korelasi antar variabel dapat dilihat dengan jelas. Peneliti harus menyertakan sebuah penjelasan yang berbeda dari hipotesis atau hasil yang berbeda atau serupa dengan stiap percobaan terkait dengan penelitian yang dilakukan orang lain. Perlu diperhatikan bahwa dari setiap percobaan yang dilakukan tidak selalu harus merujuk kepada perbedaan besar atau kecenderungan untuk menjadi penting. Jika ditemui hasil yang negatif bisa dijelaskan dan mungkin saja merupakan sesuatu yang penting yang harus dirubah dalam kegiatan penelitian yang kita lakukan.
  7. Kesimpulan
    Membuat sebuah kesimpulan dari keseluruhan percobaan yang telah dilakukan. Intinya adalah peneliti merujuk kembali kepada pernyataan dalam pendahuluan dari setiap data yang diinformasikan.
  8. Daftar Pustaka
    Bagian daftar pustaka merupakan kumpulan dari nama-nama literatur yang kita gunakan sebagai referensi dalam pembuatan jurnal. Dari keseluruhan informasi yang berupa kutipan, kita harus menuliskan daftar pustaka sesuai dengan aturan penulisan daftar pustaka yang baik dan benar.
Demikianlah beberapa informasi yang bisa saya bagikan kepada Anda mengenai informasi Cara Mudah Membuat Jurnal yang baik dan benar terkait dengan susunan jurnal yang benar dan langkah-langkah pembuatan jurnal, semoga dapat membantu Anda yang sedang ingin belajar membuat jurnal dan semoga dapat bermanfaat.

Sumber: http://goo.gl/P5jnlX
Share:

28.8.16

Ambil Bagian, Jangan Tinggal Diam

Assalamu'alaykum.
Tulisan ini saya dapatkan dari salah satu grup yang saya ikuti di Telegram, insyaAllah bermanfaat.

Ada kisah yang menceritakan seekor burung pipit di zaman Nabi Ibrahim Alaihi Salam Tatkala kekasih Allah itu dibakar oleh Namrudz yang kejam, burung kecil ini berusaha melakukan sesuatu dan tidak tinggal diam.

Dia angkut air dengan paruhnya yang kecil untuk memadamkan kobaran api besar yang disulut raja lalim.

Berulang-alik dia mengangkut air, dan pasti, usaha itu tidak memadamkan api yang sangat besar.

Burung-burung lain bertanya pada pipit kecil, mengapa dia melalukan itu? Tak berguna dan tidak memberi hasil. Begitu kata mereka. Tapi burung pipit kecil memberikan jawaban yang sangat luar biasa.

"Mungkin air yang kubawa tidak akan memadamkan api di bawah sana. Tapi jika nanti Allah bertanya, maka aku bisa memberikan jawaban. Bahwa aku tidak tinggal diam. Aku telah melakukan sesuatu!"

Jangan berdiam diri, ambil bagian dalam dakwah dan perjuangan. Besar kecil tak jadi soal. Sebab Allah yang menilai dan memandang.

Sahabat Bilal bin Rabbah Radiallahu anhu ketika Sayyidina Abubakar mengumumkan akan mengumpulkan Al Quran, beliau mengambil bagian yang sering dianggap ringan dalam sejarah.

Beliau pergi dan berjalan ke tempat-tempat yang jauh, membawa kabar dan pengumuman. Menyeru kepada semua kaum Muslimin yang menghafal Al Quran untuk datang ke Masjid Nabi, untuk dikumpulkan dan dibukukan.

Maka jika kini kita membaca Al Quran, sungguh Sahabat Bilal Radiallahu anhu akan mendapatkan pahala yang mengalir dari usaha yang beliau lakukan.
Beliau mengambil peran dari sebuah perjalanan dan proses sejarah yang besar.
Tidak tinggal diam.

Sahabat Ammar bin Yassir juga punya peran yang sangat unik. Saat pembangunan Masjid Nabawi, beliau sangat semangat sekali.

Diangkutnya batu di pundak kiri dan kanan. Berkali-kali beliau ulang alik memanggul batu, sampai keruntuhan.

Dan membuat khawatir Rasulullah dan semua sahabat yang lain. Mereka bertanya, mengapa membawa batu tak satu-satu? mengapa harus membawa beban di kiri dan kanan?

Lalu Sahabat Ammar memberikan jawaban, "Aku membawa dua. Yang satu untukku sendiri. Dan yang satu lagi, aku hadiahkan untuk Rasulullah Junjungan."

Allahu Akbar !

Agama ini dibawa dan didukung oleh manusia-manusia yang mengambil peran.

Manusia-manusia yang bekerja dan tidak tinggal diam. Manusia-manusia yang maju dan bergerak mengusung dakwah dengan segala dan berbagai kemampuan.

Dengan tenaga, dengan pikirannya, dengan hartanya, dengan kemampuannya, dengan doanya, dengan waktu, bahkan keterampilannya.

Sekarang giliran kita untuk mengambil peran.
Jangan tinggal diam 💪

Share: